Ilmu nalar yang tak berjiwa

menyukai wajah-wajah para pelanggannya penuh semangat dalam berdebat,

tapi mati dan pergi bila tak ada pelanggan.

Pelangganku adalah Tuhan; Dia yang mengangkatku,

sebab oleh Tuhan sudah dibeli.

(II, 2436-8)

Jalaluddin Rumi