Oleh: Inna

Sewaktu peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah, Abdurrahman bi Auf termasuk salah seorang pengikut Rasululloh yang turut serta dalam rombongan. Sesampainya di Madinah dia tidak punya apa-apa lagi, kecuali hanya pakaian di badan saja. Begitu sampai di kota Madinah, Rasululloh beserta rombongan disambut dengan penuh rasa persaudaraan yang mendalam oleh kaum Anshar. Seketika itu juga Rasululloh langsung memperkenalkan Abdurrahman bin Auf kepada salah seorang Anshar yang bernama Sa’ad bin Ar Rabi Al Anshary seorang penduduk Madinah yang paling kaya, untuk dipersaudarakan. Sa’ad bin Rabi ini sebelumnya sudah mengenal Abdurrahman bin Auf, karena profesi keduanya sama-sama pedagang. Melihat Abdurrahman bin Auf dalam keadaan tidak punya apa-apa lagi, Sa’ad langsung dengan penuh keikhlasan menawarkan berbagai fasilitas kepada sahabat muhajirinnya itu.

Namun Abdurrahman bin Auf dengan cara yang santun dan terpuji menolak segala tawaran tersebut. Abdurrahman bin Auf mengucapkan terima kasih dan hanya minta satu, dan katanya, “Semoga Alloh memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukan saja di mana letak pasarnya kepadaku”. Dengan senang hati Sa’ad menunjukkan dan mengantarkan saudaranya ke lokasi pasar. Abdurrahman bin Auf mengatakan bahwa pasar ini lebih berharga baginya daripada berbagai fasilitas lainnya.

Dengan berbekal karakter mandiri, entrepreneur dan salesman yang bertangan dingin, ia mulai kembali menggeluti dan menekuni aktivitasnya sebagai pedagang yang tangguh. Dalam waktu yang tidak lama, beliau yang prosesional ini berhasil dengan gemilang meraih untung dari perniagaannya. Sepanjang menjadi saudagar kaya, dia tetap memegang aturan-aturan bisnis yang terpuji.***

Sumber: Suparman Sumahamijaya dkk,

Pendidikan Karakter Mandiri dan Kewiraswastaan.