dsc06459 

Tidak heran jika seringkali kita mendengar suatu ungkapan bahwa buku adalah jendela dunia. Itu juga yang dulu menjadi salah satu pendorong saya untuk memilih peran sebagai pengajar, yaitu supaya lebih memungkinkan dekat dengan bahan bacaan.

Afif, si kecil yang saat ini berusia empat tahun mulai terbiasa berinteraksi dengan buku-buku yang kebanyakan berupa cerita. Saya menyadari, mungkin tidak banyak waktu kebersamaan saya dengannya karena aktivitas saya sehari-hari sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, juga sedang menempuh studi S2 di tempat yang sama. Sore hari lah yang sering memungkinkan bagi kami memiliki waktu bersama. Afif biasanya senang bermain lego, sambil merangkai benda-benda yang ada dalam imajinasinya, kemudian dia beri nama mahakaryanya itu. Selain itu, puzzle pun menjadi salah satu tantangannya, sementara saya kadang sambil masak, atau membuka literatur untuk persiapan memberi kuliah dan mengerjakan tugas makalah.

Tentu saja, yang lebih menjadi pelengkap kebersamaan kami yaitu buku. Afif memiliki berbagai koleksi bukunya sendiri, walaupun kadang ketika saya sedang membaca buku sambil memegang alat tulis dia sering tertarik juga. Kadang dia tanyakan tentang buku apa yang sedang saya baca, dan dia minta alat tulis yang sama untuk dapat menandai hal-hal menarik dari buku yang dia cermati. Hal yang paling menarik adalah bagaimana kami menjelajah isi buku dengan cara saya bacakan dan ceritakan tentangnya.

Berbagi Mimpi

Afif tahu, bahwa saya sering bepergian untuk suatu aktivitas ke luar kota. Suatu saat dia berkata, “Ummi udah pergi-pergi, ke Cirebon, Yogya, Hongkong, Jakarta,… Pepep (nama kecil dia memanggil dirinya) baru ke Jakarta, Dufan aja. Pepep mau juga pergi-pergi.” Lalu saya tunjukkan dan ceritakan tempat-tempat dalam ensiklopedi yang sedang kami baca. Sambil menunjukkan gambar-gambarnya saya jawab, “Suatu saat, Afif akan lebih dari Ummi. Afif akan berkunjung ke Menara Pisa di Paris, Mesjid Sulaiman di Turki, Taj Mahal di India, Tembok Besar Cina, Candi Borobudur, bahkan Ka’bah di Makkah. Itu semua, lebih jauh dari yang pernah Ummi kunjungi. Sekarang saja Afif sudah mengunjungi Dufan dua kali, Pangandaran, dan beberapa kota yang dekat dengan Bandung. Insya Alloh, nanti Afif sebesar Ummi, sudah lebih banyak tempat-tempat yang akan didatangi, siapa tahu sambil belajar di sana.”  Alhamdulillah, dia makin tertarik untuk meminta diceritakan lebih banyak tentang tempat-tempat lainnya di berbagai benua.

pangandaran-bagus-potongDengan membaca, kami berbagi mimpi untuk pergi ke tempat-tempat di berbagai belahan dunia, bahkan  juga berbagi mimpi untuk menciptakan sesuatu, seperti roket yang dapat membawa kami mengunjungi planet lain dan menemukan benda-benda angkasa.

 

Memperkaya Komunikasi

Seperti yang mungkin dikawatirkan oleh para orang tua lain, saya dan suami sering khawatir akan pengaruh bahasa sinetron yang kerapkali mencontohkan tantrum, marah-marah, menangis, melakukan kekerasan, bahkan juga merusak sesuatu jika sedang marah. Dari bacaan yang saya jelajahi bersama si kecil, ditemukan cara bagaimana belajar untuk menyampaikan keluhan, memberi dan meminta bantuan, mengungkapkan rasa sayang, dan hal-hal yang kadang tidak terduga. Suatu ketika, saya membersihkan lantai, inginnya cepat-cepat selesai. Ternyata ada bagian yang menarik perhatiannya, yaitu mengepel. Tentu, bersentuhan dengan air adalah yang ingin Afif ikuti. Saya khilaf, dengan menolak keterlibatannya, dan Afif bilang, “Ummi mah kitu, teu mengizinkan Pepep membantu” (Ummi kok begitu, tidak mengizinkan Pepep membantu). Saat itu pun saya luluh, kemudian kami pun menjalani kebersamaan membersihkan lantai, yang diteruskan dengan menyiram tanaman.

  Di waktu yang lain, Afif meminta saya untuk menggambar sebuah hati dengan spidol merah di atas balon, sambil berkata, “Ummi, tolong gambar hati di sini, nanti Pepep mau bilang “I love U” ke Ummi.” Kepintarannya berbahasa pun terungkap jika merasa berbuat salah, “Maaf Ummi, tong (jangan) marah lagi.”

Dengan membaca banyak kalimat-kalimat yang ditemukan untuk belajar mengungkapkan apa yang kita pikirkan. Memang tidak mudah dalam penerapannya, terutama karena tantangannya didapat dari lingkungan di luar rumah yang majemuk masyarakatnya, dengan berbagai macam “bahasa” ungkapannya. Bacaanlah salah satu hal penting yang dapat menyaring keterampilan si kecil berbahasa.

 

Mengasah Budi Pekerti

Di antara bacaan yang kami temukan, terdapat nilai-nilai perilaku yang menunjukkan hal-hal baik. Dari berbagai gambar dan cerita, Afif dapat belajar memilah perilaku yang baik untuk dilakukan dan yang harus dihindari. Lagi-lagi, penerapannya tidak mudah, karena dia pun berinteraksi dengan anak-anak di sekitar rumah yang majemuk dalam mendapatkan pendidikan dari lingkungannya pula. Kadang saya dan Afif bersepakat untuk mengajak beberapa anak-anak membaca di rumah, kadang pula kami membawa bacaan ke Mushola, tempat anak-anak belajar Qur’an. Kebetulan saya pun sambil mengajar anak-anak di sana, saya ceritakan salah satu buku kepada mereka. Sepulangnya saya utarakan, “Fif, tadi lihat kan, temen-temen Afif banyak yang belum beruntung punya buku, jadi kita bisa berbagi dengan mengajak mereka membaca. Mudah-mudahan Alloh makin sayang ke Afif.” Kemudian Afif bilang, “Itu teh namanya kasihan, ummi?”.

 Apapun namanya perasaan itu, yang pasti kami belajar bahwa tidak semua anak-anak saat ini mudah mendapatkan bacaaan dan kadang kita pun mungkin tidak terus menerus berada dalam kondisi serba mudah. Ada kalanya harus menabung dulu untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

 

Menemukan Gagasan Aktivitas Bersama Lainnya

Bacaan pun memberi saya dan si kecil banyak informasi tentang aktivitas apa yang dapat kami coba lakukan. Dari buku kami mendapat informasi bagaimana membuat roket sederhana dari botol minuman plastik. Terutama untuk menggali gagasan ini, suami pun sering terlibat, yang kemudian mencari bahan dan bereksperimen membuatkan  rolet sederhana, menggukanan botol bekas minuman, lidi, dan sandal bekas untuk rodanya. Hal lainnya dilakukan seperti bermain origami, menyusun suatu replika, dan aktivitas menggunting menempel lainnya. Masih banyak eksperimen lain yang kami rencanakan, seperti membuat es krim sederhana, memantau proses metamorfosa, dan yang lainnya.

Lagi-lagi, dengan bacaanlah bersama si kecil, kami mengeksplorasi gagasan-gagasan untuk menjadi aktivitas bersama lainnya. Beberapa hal dari manfaat bacaan tadi, saya yakini hanya sebagian kecil dari sejumlah manfaat suatu “jendela dunia” yang mungkin belum saya sadari. Sesuatu yang jika dijadikan mainan tidak mudah musnah, dapat dinikmati oleh sendiri, saudara-saudara, tamu dan anak-anak yang berkunjung ke rumah, dan masyarakat sekitar. Saya yakin pula bahwa dengan “jendela dunia” ini, kebersamaan yang dapat dirasakan tidak saja dengan si kecil, tetapi juga memungkinkan memperoleh pertemanan dan kebersamaan yang lebih luas.