Oleh Inna Junaenah

 

Ibu Yuyun (bukan nama sebenarnya), hanyalah salah satu klien yang tercatat di sebuah LSM di Kota Bandung dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Walaupun suaminya memiliki jabatan dalam suatu instansi pemerintah yang berbeda Kota dengan tempat tinggalnya, perlakuan kasar dan pembatasan terhadap aktivitasnya seolah menjadi wajah dari sosoknya. Hal itu ditambah lagi dengan perilaku suaminya yang menyimpan perempuan lain di Kota tempatnya menjalankan Dinas. Anak-anaklah yang menjadi pertimbangan utama Bu Yuyun bertahan karena ketergantungan ekonomi.

Tidak jauh berbeda dengan Putri. Mungkin kasus ini kurang tepat untuk dicontohkan, karena di luar ikatan yang sah. Walaupun begitu, faktanya tidak dapat diingkari. Entah dengan gaya berpacaran seperti apa, sehingga suatu saat mereka memiliki konflik yang diwarnai dengan kata-kata kasar dan tamparan. Rupanya  sinetron telah mengguruinya dengan baik tentang perilaku marah-marah dan kekerasan. Atas nama cinta pula, mereka harus saling mematuhi untuk tidak berurusan apapun dengan masing-masing lawan jenis, dengan dalih kecemburuan.

Petikan kasus di atas hanyalah secuil bentuk-bentuk hubungan antara makhluk yang katanya paling mulia bernama laki-laki dan perempuan, yang awalnya dilandasi dengan “klaim” cinta. Seiring dengan waktu, perwujudan cinta tersebut memunculkan kecenderungan bahwa satu pihak mengkondisikan supaya pasangannya merasa tergantung padanya. Ketergantungan ekonomis mendorong satu pihak untuk khawatir bahwa dia atau anaknya tidak dapat “makan”. Ketergantungan secara fisik mendorong satu pihak untuk merasa takut dilukai oleh pasangannya. Begitupun ketergantungan secara psikologis, atau bahkan intelektual, mendorong satu pihak menjadi resah, gagap, dan sejenisnya, jika ditinggalkan oleh pasangan.

Sebagian perasaan yang timbul tersebut dapat dimengerti dan akan nampak wajar jika di antara pasangan merasakan hal yang sama secara seimbang. Namun menjadi tidak indah ketika “rasa” ketergantungan sepihak yang menandai hubungan tersebut memposisikan satu pihak, kebanyakan perempuan, menjadi “budak” pasangannya. Status “budak”, yang serba harus diatur oleh pasangan inilah yang mengarah kepada ketidaksetaraan sebagai manusia seutuhnya.

Ada hal yang dalam legitimasi teologis tidak dapat diubah berkaitan dengan ketentuan Al-Qur’an tentang kekuasaan hirarkis laki-laki atas perempuan. Argumentasi yang biasa dikemukakan adalah “Kaum laki-laki adalah qawwamun atas kaum perempuan karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS An-Nisa (4):34). Walaupun demikian, apa yang dicontohkan oleh Rasulullah tidak lantas membenarkan perlakuan pemukulan, atas nama kekuasaan dan kepemimpinan. Di samping itu, Rasululloh juga menyatakan, “Jangan kamu memukul kaum perempuan dan jangan bertindak kasar kepadanya.” Kyai Hussein Muhammad pun lebih jauh mengutip bahwa pada saat yang lain Rasul  mengatakan, “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku. Tidak menghormati kaum perempuan, kecuali orang yang terhormat, dan tidak melecehkan kamu perempuan kacuali orang yang tidak bermoral.”

Dalam relasi yang dilandasi oleh cinta, seharusnya tidak terlepas dari apa yang diungkapkan Al-Qur’an terkait dengan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Ayat 35 dari Surat Al-Ahzab dengan adil menyebutkan, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Islam, laki-laki dan perempuan beriman, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang mengingat Alloh, Alloh Menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” Sebagian hal yang dapat dimaknai dari ayat ini adalah berarti bahwa laki-laki dan perempuan, sebagai manusia seutuhnya, memiliki kesetaraan yang sama untuk memiliki hak untuk beribadah, hak untuk memelihara kehidupan sosialnya, hak untuk mengembangkan diri, hak untuk mempertahankan martabatnya, hak untuk berilmu agar dapat senantiasa dekat dengan Tuhannya, dan sederetan hak lainnya.

Dalam kondisi tertentu, kesetaraanpun adalah dalam konteks pemenuhan kebutuhan ekonomi, pendidikan, maupun kesalehan sosial. Konteks berbicara bahwa tidak semua kondisi menampilkan laki-laki sebagai pemberi nafkah. Konteks pun berbicara bahwa kewajiban mendidik anak mensyaratkan kecukupan ilmu dari kedua orangtuanya. Konteks pula yang berbicara, bahwa dalam masyarakat yang memprihatinkan seperti sekarang, seorang anggota rumah tangga, memungkinkan berkapasitas sebagai agen pencerah bagi masyarakat.  

Setara tidak identik dengan sama. Ada hal-hal yang telah dipamahi sangat spesifik dari perempuan menyangkut potensi reproduksinya. Walaupun demikian perbedaan secara fisik ini tidak melepaskan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan secara teologis, maupun sosial. Keseluruhan dari kesetaraan ini tidak terlepas pula untuk tujuan yang lebih tinggi, yaitu perlindungan atas agama, jiwa, akal, keturunan/kehormatan, dan harta.

Cinta memang sulit didefinisikan. Namun perasaan-perasaan yang menandainya tidak lantas menjadi ciri keindahan yang berpoles kekerasan, kekuasaan atas pasangan, ketergantungan sepihak, dan semacamnya. Namun cinta layak dipertahankan tanpa melepaskan kesetaraan, agar setiap individu yang menjunjungnya dapat layak menjadi manusia seutuhnya.***

Sebuah cinderamata untuk sang pengantin.