Oleh Inna Junaenah

 

“Ceu Tiah Maot, nginum Baygon!” (Ceu Tiah meninggal, minum Baygon, red.). Begitu hebohnya kampung itu dengan kematian seorang wanita muda usia 25 tahunan yang memiliki dua orang anak yang masih kecil itu. Bunuh diri. Suatu cara singkat untuk melupakan persoalan dan rasa putus asa. Setelah suaminya memulangkannya kepada kakak perempuan beserta kakak ipar selain hanya ibunya 3yang ia miliki, Ceu Tiah menempuh cara mati walaupun meninggalkan anak usia lima tahun dan bayi. Utang yang dia tinggalkan yang mencapai jutaan itu memang terlalu besar bagi orang yang hanya tinggal di rumah kontrakan dan suami yang bekerja tidak tetap dan penghasilan tidak mencukupi.

Kita tidak akan menghakiminya dengan imej perbuatan bunuh diri itu. Selain karena kita tidak berkompeten, juga tidak akan mempengaruhi pemikiran Ceu Tiah saat ini, bukan? Atau untuk menghidupkannya kembali, memikirkannya saja sudah terlalu rumit. Setidaknya kita cukup layak untuk memahami ada apa di balik semua ini.

Dalam surat wasiat yang ternyata sempat dia tulis, Ceu Tiah menyebutkan kepada siapa dan berapa dia berhutang. Uang yang dipinjamnya dirasakan banyak untuk keperluan anak-anaknya sebagai tambahan karena nafkah suaminya dirasakan tidak cukup. Selain itu wanita periang ini menepis tuduhan selingkuh dari suaminya.

Sementara ini terlepas dari apapun yang kita nilai dari kematian tragis ini, penduduk yang memandikannya kerepotan saat memandikannya. Muntahan yang berkali-kali keluar dari mulut Ceu Tiah setiap seusai dimandikan mengharuskan berulangkali juga dibersihkan.

Perasaan cukup atau tidak terhadap sesuatu yang kita miliki memang terletak di dalam hati, dan setiap orang mungkin memiliki standar yang berbeda. Seberapa besarkah lahan penghasilan yang menyempit bagi laki-laki di masyarakat kita? Peristiwa yang membuat dahi mengernyit dan mengenaskan hati ini sekedar salah satu bentuk persoalan masyarakat bawah. Kurang bijak rasanya jika kita menumpahkan persoalan masyarakat semacam ini hanya pada individu yang bersangkutan. Tidakkah kita rasakan bahwa variabel lain pun berpengaruh? Tetangga yang mengikat hutang dengan bunga yang sangat tinggi, suami yang berpenghasilan rendah dan kurang bisa mencukui dan mendidik istri, serta pemimpin rakyat yang kurang peduli terhadap persoalan kesejahteraan masyarakat belum dapat dilepas sebagai pemicu, selain keadaan mental dan ketahanan iman seseorang.

Dari semua hal yang berkaitan langsung ataupun tidak dengan persoalan apapun, kiranya layaklah suatu renungan kita terima: apa yang kita ingin orang bicarakan terhadap kematian kita?***

(diangkat dari sebuah kisah nyata dengan nama bukan sebenarnya)