Dan Merantaulah Romilah ke Negeri kelahiran Sang Nabi

Romilah bukan Peziarah,

Romilah bukan saudagar,

Romilah bukan Negarawan,

Romilah bukan pelajar pula,

dan

Romilah pun bukan pelancong

 

Romilah adalah…

Sebutir pasir dari gundukan deretan pahlawan devisa,

Seorang anak desa dimana sawah, kebun, dan lahan yang luas sudah tak sanggup lagi memberikan senyum harapan kehidupan yang layak sebagai manusia,

Seorang warga dimana pamong praja sudah kehabisan tenaga, niat, dan selera untuk menghantarkan rakyatnya menuju gerbang kesejahteraan,

Seorang korban kekerasan lahir batin, seksual, dan tipu muslihat, dari kadal-kadal yang bersembunyi di balik jubahnya sebagai petugas, sponsor, dan majikan, karena dia perempuan

 

Kemiskinan,

Redupnya pendidikan,

Kerelaan dibayar murah,

telah mendidihkan darahnya untuk menjadi buruh migran

 

Romilah, Romilah,

Alangkah tak berbanding jasamu dengan apa yang engkau dapat…

 

Romilah tak tahu hak-haknya,

Romilah takut menempuh cara memperoleh hak-haknya,

Romilah malu jika pulang tanpa hasil ke kampung harus jadi pilihannya,

Romilah pun lebih memilih bertahan dengan siksaan, tekanan, dan pelecehan,

Asalkan dia bisa mengirim segenggam recehan bagi orang-orang di kampung halaman yang menaruh harapan hidup kepadanya,

 

Bagi Romilah mungkin itu lebih baik…

daripada terlunta-lunta di negeri sendiri

 

Bandung, 24 April 2007

Inna Junaenah